Agenda Kegiatan CBIB

Registrasi dan Verifikasi CBIB di Provinsi Riau
Rabu, 2 Juli 2014 - Kategori : Agenda Kegiatan CBIB

Kegiatan dilaksanakan tanggal 25 April 2014 di Hotel Resty Menara, Jl. Sisingamangaraja No. 9, Pekanbaru dan dibuka oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini berjumlah 30 (tiga puluh) orang, terdiri dari Staf Dinas KP Provinsi, Kabupaten/Kota, pelaku usaha Produksi Budidaya dari kota Pekanbaru, serta stakeholder terkait lainnya.

Materi yang disampaikan adalah Kebijakan Pengembangan Produksi Budidaya dan Prosedur Sertifikasi dan Verifikasi CBIB dan Panduan Pengisian Form Sertifikasi dan Verifikasi CBIB dari Kasubdit Standardisasi Dit Produksi Budidaya.

Acara didahului dengan pembacaan doa dan dibuka secara resmi oleh Bapak Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau. Laporan panitia disampaikan oleh Ir. Rafendi Rais. Pada arahannya, Kepala Seksi Produksi Budidaya Perikanan dan Kelautan yang mewakili Kepala Dinas KP Prov. Riau menyampaikan bahwa dari luas wilayah Kota Pekanbaru 622.000 Ha, 40% yang sudah terbangun. Ada 2 pola pembangunan yaitu: Pemanfaatan lahan sempit di kota, dan di daerah pinggiran (pengembangan akses jalan dan listrik). Produksi Budidaya di Riau, didominasi oleh ikan hias air tawar (koi, guppy, koki, tetra, cupang, plati, manvis, oskar, discus, blackghost). Ekspor ikan hias saat ini masih melalui Jakarta walaupun dari segi lokasi Riau lebih dekat ke Singapura dan Malaysia. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena belum ada event untuk mempromosikan sektor perikanan di Pekanbaru. Potensi Produksi Budidaya yang belum dikembangkan yaitu arwana karena saat ini masih terkait di BKSDA dan Dinas Kehutanan, dan minyak ikan patin karena pengelolaannya masih bersifat percobaan dan belum dimanfaatkan secara maksimal.

Kunjungan Pelaku Usaha

a.    Pelaku Usaha Minyak Ikan Pak Ahyar (sentra)

Potensi minyak ikan di daerah Riau cukup besar tetapi masyarakat setempat lebih berfokus kepada produksi sale patin. Dimana-mana warga bisa membuat kolam karena air tanah mudah didapat. Satu desa mempunyai 42 ha kolam (+/- 800 unit kolam).

Untuk budidaya patin warga mendapat bantuan CSR dari Telkom, sedangkan untuk sarana sentra produksi sale disediakan oleh Pemerintah Daerah. Dalam kondisi normal, sentra ini dapat memproduksi 4 – 5 ton ikan patin basah. Harga bahan baku segar Rp. 15.500,- /kg dan harga jual Rp. 60.000,-/kg. Ikan sale yang kering dikemas dalam 1 kardus bekas rokok ukuran panjang 57 cm, lebar 38 cm, dan tinggi 58 cm, bisa memuat 30 kg. Sale patin ini dijual ke Medan, Aceh, Palembang dan Jakarta.

Minyak ikan patin diproses dari limbah patin sisa ikan yang telah diproduksi menjadi sale, biasanya diambil jeroan dan lemak ikannya. Alat yang digunakan untuk membuat minyak ikan adalah pengukus. Prosesnya adalah limbah patin (jeroan dan lemak) dimasukkan ke dalam alat pengukus dan dipanaskan sampai terurai menjadi minyak. Untuk ke depannya akan dicoba menggunakan oven, hanya saja belum ada peralatannya. Sumber api berasal dari kompor gas, dan pengatur suhu dari listrik sehingga bisa diatur suhunya antara 50 – 60 0C.

Jeroan ikan hampir 15% dari berat ikan dan 50%nya dapat diolah menjadi minyak. Dari 5 ton basah, 15% (750 kg) jeroan bisa menghasilkan 350 kg minyak. Dari lemak patin yang dijadikan minyak hanya tersisa 10% ampasnya. Untuk minyak masih belum dipasarkan, dikumpulkan dulu menunggu alat penyulingan. Dengan alat penyulingan tersebut, minyak akan dapat langsung dikonsumsi. Tetapi ada juga yang menjual minyak untuk bahan baku pelet ikan lele dan ikan mas Rp. 7.000 /kg.

Kendala yang dihadapi: kontinuitas bahan baku dan bencana alam yang mempengaruhi produksi ikan. 

b.    Pelaku Usaha Pak Edi (Desa Kuto Masjid)

Usaha sale ikan patin Pak Edi dimulai  sejak tahun 2007, dengan produksi awal 50 kg, sekarang produksi sale ikan patin Pak Edi menjadi 1 ton. Modal ikan untuk pembuatan sale patin sekitar Rp. 15.000/kg, setelah menjadi sale dijual sekitar Rp. 60.000/kg.

Bahan baku ikan patin berasal dari kolam-kolam mitra, Pak Edi hanya menyediakan pakan saja. Dibutuhkan pelet sebanyak 2,5 ton/hari untuk memberi makan ikan patin tersebut. Pelet tersebut dibuat sendiri oleh Pak Edi, dari campuran dedak, ikan asin rucah, bungkil sawit dan minyak ikan patin. Untuk ukuran ikan 4 ekor 1 kg bisa dipanen untuk dijadikan sale setelah 4 bulan.

Pak Edi memiliki 6 orang karyawan tetap, tetapi ada juga karyawan harian/borongan untuk menangkap dan membersihkan ikan.

Proses pembuatan sale patin yaitu, ikan yang sudah ditangkap, diambil jeroan dan minyaknya kemudian dicuci sampai bersih dan dikeringkan. Ada 2 tahap pengeringan sale, pengeringan air dan pengeringan minyak. Rak bagian bawah untuk pengeringan air selama +/- 4 jam dan rak bagian bawah untuk pengeringan minyak selama +/- 4 jam.

Proses pembuatan minyak ikan terdiri  dari jeroan/lemak ikan dipanaskan diatas wajan sampai limbah terurai menjadi minyak. Suhu pemanasan dapat lebih dari 60 0C. Sisa ampasnya proses pembuatan minyak ikan tersebut dapat dijadikan pupuk.

c.     Kelompok Ikan Hias Jaya Bukit Raya (Pak Lubis).

Usaha yang berdiri sejak tahun 2007 ini, memanfaatkan lahan yang minimalis. Ikan hias yang dibudidayakan kebanyakan ikan hias air tawar, antara lain: manfish, molly, platy, guppy, blackghost. Pembudidayaan ikan hias tersebut menggunakan pakan alami yaitu cacing sutra dan jenti-jentik. Dalam perawatannya, masih bersifat intuitif, tidak menggunakan takaran. Penggantian air dilakukan setiap 5 hari sekali.

Sebagian besar ikan-ikan tersebut didistribusikan ke toko-toko aquarium di sekitar kota Pekanbaru. Kendala yang dihadapi antara lain: kesulitan dalam memperoleh pakan alami, indukan untuk ikan (ikannya kebanyakan inbreed sehingga ukurannya lebih kecil), dan persaingan dengan sesama pelaku usaha ikan hias.

Kesimpulan dan Tindak lanjut  

Untuk mengembangkan potensi ikan hias, pembudidaya perlu bekerjasama dengan stakeholder lainnya seperti asosiasi dan eksportir ikan hias.Diharapkan peran aktif Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Riau dalam menggali potensi Produksi Budidaya yang ada dan mengusulkan CBIB yang ada untuk mendapatkan nomor Sertifikasi.Untuk mengembangkan potensi Produksi Budidaya yang ada Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Riau agar mengajukan usulan/proposal terkait bimtek untuk potensi yang ada di Riau, seperti ikan patin.