Agenda Kegiatan CBIB

Registrasi dan Verifikasi CBIB di Provinsi Sumatera Selatan
Jumat, 18 Juli 2014 - Kategori : Agenda Kegiatan CBIB

Kegiatan dilaksanakan tanggal 11 Juni 2014 di Hotel Budi, Jl. Letnan Kolonel Iskandar, Komplek Ilir Barat Permai, Palembang. Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan.

Peserta yang hadir dalam kegiatan ini berjumlah 30 (tiga puluh) orang, berasal dari Staf Dinas KP Provinsi, Kabupaten/Kota, pelaku usaha Produksi Budidaya dari kota Lubuk Linggau, Pagar Alam, Musi Banyuasin, Kota Palembang dan stakeholder terkait lainnya.

Materi yang disampaikan adalah:

        Kebijakan Pengembangan produksi budidaya dan

        Prosedur Registrasi dan Verifikasi CBIB dan Panduan Pengisian Form Registrasi dan Verifikasi CBIB

Acara didahului dengan pembacaan doa dan dibuka secara resmi oleh Bapak Ir. Slamet Riyadi, MS. Pada arahannya, Kepala Bidang Bina Usahayang mewakili Kepala Dinas KP Prov. Sumatera Selatanmenyampaikan peluang, tantangan dan hambatan dalam pengembangan produksi budidaya di Provinsi Sumatera Selatan.

Sumatera Selatan memiliki potensi sumberdaya perairan umum sekitar 2,5 juta ha perairan tawar, terdiri dari perairan lebak 43% (1.075.000 ha), sungai 31% (775.000 ha), danau 11% (275.000 ha) dan rawa 15 % (375.000 ha). Sungai besar di Sumsel yaitu : S.Musi, S.Lematang, S. Komering, S. Ogan, S.Rawas, S. Kelingi, S.Enim, Sungai Leko, Sungai Lakitan, dan Sungai Semangus

Di Sumatera Selatan terdapat +/- 150 jenis ikan air tawar. Saat ini tercatat lebih dari 10 jenis ikan air tawar yang dijadikan ikan hias antara lain: (1) Tangkeleso /Arowana (Sclerophagus formosus), Kecubang/Botia (Botia macracanthus), Puntung hanyut/Bala shark (Balantiochilus melanopterus), Tilan (Mastacembelus erythrotaenia), Belido (Notopterus chitala), Serandang (Channa pleurophthalmus), Lais kaca (Cryptopterus schilbeides), Jelawat (Leptobarbus hoeveni), Sihitam (Labeo chrysophekadion), Selimang (Epalzoarhynchus kallopterus)

Data eksport ikan hias tahun 2013: Botia 248.600 ekor dengan nilai sebesar Rp258.400.000 dan Arwana brazil 24.700 ekor dengan nilai sebesar Rp260.500.000. Kendala yang dialami dalam pengembangan produksi budidaya di Sumatera Selatan adalah kurangnya pengetahuan untuk pengembangan Produksi Budidaya sedangkan sumber daya alamnya sudah tersedia. Contohnya pemanfaatan kulit kepala udang dan pembuatan tepung ikan.

 

Pelaku Usaha Ikan Hias Botia (CV. Delima)

·           Usaha budidaya dan ekspor ikan dihias dimulai dari tahun 70an. Pengiriman berlangsung sepanjang tahun, ukuran ikan yang dijual tergantung permintaan konsumen. Biasanya ukuran paling kecil yang diminta 1,5 inchi.

·           Volume pengiriman botia rata-rata: 1 minggu +/- 5000 ekor, 1 tahun +/- 300.000 ekor tergantung pada musimnya.

·           Sebelum diekspor ikan dibawa dari farm untuk dipacking di kantor pusat di palembang. Jumlah karyawan di farm 15 orang sedangkan di kantor pusat 8 orang.   

·           CV. Delima juga melakukan penangkaran ikan hias arwana super red dan arwana brazil. Jumlah saat ini ada 200 indukan. Untuk arwana tidak diekspor, hanya dijual dipasar lokal.

·           Permasalahan: Beliau tidak mengetahui ada SNI terkait botia, yang melarang ekspor ikan hias botia dibawah 3,5 inchiuntuk melindungi bibit ikan hias botia di Indonesia.

 

Untuk mengembangkan potensi ikan hias, pembudidaya perlu bekerjasama dengan stakeholder lainnya seperti asosiasi dan eksportir ikan hias dan sosialisasi SNI Produksi Budidaya kepada pelaku usaha ikan hias. Diharapkan peran aktif Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Sumatera Selatan dalam menggali potensi Produksi Budidaya yang ada dan mengusulkan CBIB yang ada untuk mendapatkan nomor registrasi. Perlunya peran aktif Dinas Kelautan dan Perikanan setempat dalam memberikan pelatihan teknologi / bimtek dan bantuan sarpras kepada pelaku usaha untuk mengembangkan potensi Produksi Budidaya antara lain pemanfaatan ikan gabus, limbah ikan patin dan kulit kepala udang.